Berita Terbaru :
Artikel Baru

Garuda Indonesia Pimpin Organisasi Maskapai di Asia Pasifik

Sepanjang beberapa tahun terakhir, nama Garuda Indonesia semakin berkibar di dunia penerbangan. Yang terbaru, Rabu (19/11/2014) lalu, Garuda Indonesia mendapat kehormatan menerima chairmanship Association of Asia Pacific Airlines (AAPA -asosiasi perusahaan penerbangan Asia Pasifik yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia) dari maskapai penerbangan Jepang All Nippon Airways (ANA) dalam kegiatan AAPA 58th Assembly of Presidents yang dilaksanakan di Tokyo, Jepang, pada 18-19 November 2014.

Ya, Garuda Indonesia ditunjuk untuk memimpin asosiasi perusahaan penerbangan di Asia Pasifik (AAPA). Saat ini AAPA beranggotakan sebanyak 16 perusahaan penerbangan berjadwal, yaitu Air Astana, All Nippon Airways, Asiana Airlines, Bangkok Airways, Cathay Pacific Airways, China Airlines, Dragonair, EVA Airways, Garuda Indonesia, Japan Airlines, Korean Air, Malaysia Airlines, Philippine Airlines, Royal Brunei Airlines, Singapore Airlines, dan Thai Airways International.

Chairmanship AAPA diserahkan dari CEO maskapai penerbangan All Nippon Airways, Osamu Shinobe, kepada Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar untuk periode tahun 2015.

Setiap tahunnya AAPA dipimpin secara bergantian oleh CEO maskapai penerbangan anggota AAPA. Chairmanship AAPA oleh Garuda Indonesia -yang bergabung sebagai anggota AAPA pada tahun 1967- untuk periode tahun 2015 merupakan yang kedua kalinya. Sebelumnya, mantan Direktur Utama Garuda Indonesia Abdulgani ditunjuk sebagai Chairman AAPA untuk periode tahun 2001.

AAPA didirikan pada tahun 1966 di Manila, Filipina, sebagai forum bagi perusahaan penerbangan di kawasan Asia Pasifik untuk saling melakukan pertukaran informasi, pandangan dan melaksanakan diskusi/pembahasan terhadap berbagai isu dan perkembangan industri penerbangan, baik dari sisi komersial maupun teknikal, khususnya di kawasan Asia Pasifik.

Salah satu tujuan AAPA adalah untuk mengupayakan jalan keluar untuk mengurangi berbagai dampak yang kurang menguntungkan bagi maskapai anggota asosiasi, atas peraturan, regulasi atau kebijakan yang dikeluarkan/ditetapkan pemerintah, negara, atau lembaga lainnya.

Garuda Kini Punya Kantor Penjualan yang Buka 24 Jam

PT Garuda Indonesia Airlines (Persero) hari ini telah meresmikan kantor penjualan dan pelayanan satu-satunya yang akan buka non stop 24 jam.

Direktur Pemasaran dan Penjualan Garuda Indonesia Erik Meijer mengungkapkan, pembukaan kantor penjualan dan layanan baru tersebut juga sebagai bentuk komitmen Garuda Indonesia untuk terus meningkatkan layanan kepada para pengguna jasa.

"Kantor baru ini akan melayani permintaan reservasi pembukuan, pembelian tiket, city check-in, layanan program frequent flier GarudaMiles dan layanan preflight lainnya," papar Erick, Kamis (27/11/2014).‎

Karena dibuka 24 jam, kantor ini diharapkan dapat mengakomodir kebutuhan para pengguna jasa untuk melakukan transaksi pembelian tiket, perubahan reservasi atau melakukan city check-in dengan waktu yang lebih fleksibel.

Selain call center Garuda, kantor penjualan di Hotel Borobudur ini merupakan satu-satunya kantor penjualan dan layanan di Indonesia yang memberikan pelayanan selama 24 jam.

“Pembukaan kantor penjualan dan layanan 24 jam di Hotel Borobudur ini didasarkan oleh komitmen Garuda Indonesia untuk selalu memenuhi harapan pengguna jasa yang semakin meningkat, khususnya untuk dapat mengakses layanan Garuda kapan saja," tambah Erik.

Hotel Borobudur merupakan salah satu hotel terbaik di Jakarta dan terletak di lokasi yang strategis di pusat kota Jakarta. Hotel bintang lima ini sangat mudah dijangkau oleh pengguna jasa di sekitar wilayah Jakarta Pusat, serta memiliki tingkat hunian (occupancy) yang tinggi, sehingga menjadi tempat yang ideal bagi kantor penjualan dan layanan Garuda Indonesia yang baru ini.

Kantor baru memiliki dua counter pelayan dan memiliki disain khusus ke- Indonesia-an dengan menampilkan kekayaan ragam Batik Kaung dan Tenun,  sesuai konsep layanan 'Garuda Indonesia Experience'‎.

2015 Lion Air Layani Rute ke Madinah

Maskapai penerbangan Lion Air akan melayani penerbangan internasional ke Madinah tahun 2015 mendatang. Rencana ini seiring dengan keluarnya permit landing atau izin mendarat dari pemerintah Arab Saudi, yang membuat perseroan ini bisa melayani rute tersebut.
Kendati sempat terjadi penundaan untuk izin penerbangan, kini Lion Air tengah melakukan persiapan untuk memakai pesawat baru melayani rute tersebut.
Sebelumnya rute ini disebutkan akan dilayani dengan pesawat Boeing 747-400, namun sesuai persyaratan yang diberikan pemerintah Arab Saudi terkait izin terbang, maka Lion Air diharuskan mengganti pesawatnya dengan unit baru.
Dengan permintaan tersebut Lion Air berencana mengoperasikan Boeing 777-200 atau 787 untuk rute baru ini yang rencana dilayani dua kali sehari ini.
Area Manager Lion Grup Wilayah Sulawesi, Ronny Paslah mengatakan, izin terbang sudah diperoleh Lion Air, tinggal penggantian pesawat sesuai yang diisyaratkan pemerintah Arab Saudi.
"Jadi untuk kelayakan terbang memang kami diwajibkan memakai pesawat baru, dan dengan rencana penambahan pesawat yang kami lakukan ini akan terjawab," jelasnya, Minggu (16/11/2014).
Ronny turut mengimbau seluruh travel agent untuk tidak panik karena dipastikan rute ini akan diterbangi.
"Ini sudah menjadi rencana bisnis dan kami sudah melakukan perampungan," katanya.
Dia berharap travel agent di Makassar yang sudah memasarkan paket ini kepada jemaahnya untuk menunggu hingga jadwal penerbangan dilakukan.
"Akan ada pemberitahuan resmi kami lakukan nantinya," ujar Ronny.
Sebelumnya beberapa travel agent di Makassar mengaku gusar akibat tidak adanya kepastian jadwal penerbangan ke Madinah dari Lion Air.
Padahal beberapa travel konsorsium, sudah jor-joran menjual paket ini kepada jemaah untuk .

Bos Lion Air beli 40 pesawat ATR buatan Italia

Maskapai penerbangan Lion Air menandatangani kontrak pembelian 40 pesawat ATR72-600s buatan Prancis dan Italia. Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana datang langsung ke Istana Chigi, Roma, Italia.
Kesepakatan pembelian ini disaksikan Perdana Menteri Italia Matteo Renzi dan KUAI KBRI Roma, demikian Minister Counsellor Penerangan dan Sosial Budaya KBRI Roma, Nindarsari Utomo seperti dilansir Antara, Jumat (28/11).
Dengan pembelian 40 tambahan pesawat ini, maka total pesawat ATR turboprops yang dibeli perusahaan Lion Group menjadi 100 pesawat. Dengan catatan ini, Lion Grup mengukuhkan diri
Dengan aksi pembelian ini, Lion Air tercatat sebagai pemesan terbanyak pesawat ATR. Pesawat ATR72 merupakan produk perusahaan patungan yang dibentuk Aerospatiale (sekarang Airbus Group dengan kantor pusat di Toulouse, Prancis) dan Aeritalia (sekarang Alenia Aermacchi, bagian dari kelompok Finmeccanica, dengan kantor pusat di Italia) pada 1981.
PM Renzi mengapresiasi aksi Lion Air membeli pesawat ATR-72. Penandatanganan tersebut menandai realisasi kemitraan kerja sama jangka panjang sebagai strategic alliance in the future.
CEO ATR Patrick de Castelbajac mengatakan, pembelian 100 ATR oleh Lion Grup adalah yang terbesar. ATR berharap bisa ikut berperan dapat memenuhi kebutuhan penerbangan Indonesia. ATR meyakini punya peran strategis membantu masyarakat Indonesia menggunakan transportasi udara.
Presiden Direktur Lion Group Indonesia Rusdi Kirana menegaskan, pembelian ATR adalah hak mutlak untuk memenuhi keterhubungan antar pulau.
Dia menjelaskan, Lion Air tidak hanya membeli pesawat jenis ATR tetapi juga pesawat jenis Airbus dan Boeing. Rusdi membeberkan, aksi-aksi Lion membeli ratusan pesawat tidak lepas dari peran institusi keuangan di Eropa dan beberapa bank komersial.
Rusdi Kirana menyatakan, untuk jangka panjang Indonesia diharapkan dapat memproduksi sendiri pesawat komersial sendiri untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Pesawat jenis ATR 72 ini tergolong ke dalam jenis pesawat hemat biaya untuk kategori pesawat dengan penerbangan jarak pendek. Desain pesawat merupakan pesawat berjenis sayap-tinggi, memiliki turboprops ganda sehingga sangat efisien, fleksibel pengoperasiannya dan memberikan kenyamanan kepada penumpang.
Saat ini, ATR menjadi patokan untuk pesawat turboprops regional dengan penjualan melebihi 1.400 pesawat, lebih dari 180 operator di 90 negara dengan total siklus sekitar 25 juta. Pesawat ATR juga menjadi penggagas transportasi regional dimana setiap dua belas detik, sebuah ATR lepas landas di suatu tempat di seluruh dunia.

Membangun Situs Reservasi Tiket Pesawat Online

Jika anda bergelut di dunia Travel dan Penjualan Tiket/ Agen Tiket yang memiliki perusahaan sendiri. Anda pengusaha penjualan tiket maskapai penerbangan komersil yang menjual tiket secara langsung kepada konsumen melalui kantor/ tempat usaha yang memiliki bangunan. Selama ini anda melayani pelanggan secara langsung (bertatap muka) dan menunggu pelanggan menghampiri anda untuk datang di outlet/ counter anda. Tidak ada salahnya anda mencoba berjualan tiket secara online untuk meningkatkan penjualan anda.
Kami akan coba membahas, dan sedikit memberikan gambaran sebuat produk instan script yang menawarkan aplikasi penjualan tiket online dengan tampilan user/ client dapat mencari jadwal keberangkatan, nama maskapai secara langsung pada situs anda. Aplikasi ini bisa juga ditambah layanan hotel, paket wisata/ tour dan lain-lainnya.

Script Instan Tours & Travel Script adalah situs buatan web developer Eicra Soft Ltd. Menawarkan kemudahan untuk anda dalam membuat situs Penjualan Tiket dan Tour & Travel online.
Fitur-fitur dari PHP Tours Script :
- Halaman pencarian tiket online menampilkan seluruh maskapai penerbangan yang tersedia
- Pemesanan Online dan mencetak faktur
- Terdapat halaman login untuk admin, manager, agen, affiliate, user/ client


Kelebihan Tours & Travel Script, anda dapat memusatkan pemesanan Anda, menerima pembayaran online, melacak inventaris Anda, dan menyederhanakan administrasi bisnis Anda. produk script instan ini memberikan kemudahan penggunaan, namun fitur yang lengkap. Silahkan anda melihat dan mencoba sendiri pada halaman http://www.phpholidays.com/ 

Untuk rincian/ gambaran biaya pembuatan website Tiket Online yang bisa reservasi adalah :

Boeing 737-700

The 737-700 was the first of the Next Generation series when launch customer Southwest Airlines ordered the variant in November 1993. The variant was based on the 737-300 and entered service in 1998. It replaced the 737-300 in Boeing's lineup, and its direct competitor is the Airbus A319. It typically seats 137 passengers in a two-class cabin or 149 in all-economy configuration. The primary user of the 737-700 series is Southwest Airlines. They operate close to 400 of these aircraft and have more on order.
The 737-700C is a convertible version where the seats can be removed to carry cargo instead. There is a large door on the left side of the aircraft. The United States Navy was the launch customer for the 737-700C under the military designation C-40 Clipper.

Seatmap

Powerplants
737-600 - Two 86.7kN (19,500lb) CFM56-7B18 turbofans, or 101kN (22,700lb) CFM56-7B22s on high gross weight version.
737-700 - Two 91.6kN (20,600lb) CFM56-7B20s or 101kN (22,700lb) CFM56-7B24s on HGW version.

Performance
Typical cruising speed Mach 0.785. Max certificated altitude 41,000ft.
737-600 - Range with 110 pax 2480km (1340nm) or 5648km (3050nm) for HGW version.
737-700 - Range with 126 pax 2852km (1540nm) or 6037km (3260nm) for HGW version.

Weights
737-600 - Operating empty 37,104kg (81,800lb), max takeoff 56,245kg (124,000lb), HGW max takeoff 65,090kg (143,500lb).
737-700 - Operating empty 38,147kg (84,100lb), max takeoff 60,330kg (133,000lb), HGW MTOW 70,080kg (154,500lb).

Dimensions
737-600 - Wing span 34.31m (112ft 7in), length 31.24m (102ft 6in), height 12.57m (41ft 3in). Wing area 125.0m2 (1344sq ft).
737-700 - Same except length 33.63m (110ft 4in), height 12.55m 41ft 2in).

Capacity
Flightcrew of two.
737-600 - 110 passengers in two classes or 132 in a single class.
737-700 - 126 in two classes or 149 in a single class.

Production
737-600 - 81 ordered and 47 delivered by October 2002.
737-700 - 883 ordered and 465 delivered by October 2002.

Type
Short to medium range airliners

Schematics  


History
The 737-600 and -700 are the smaller members of Boeing's successful Next Generation 737-600/700/800/900 family.
Among the many changes, the Next Generation 737s feature more efficient CFM56-7B turbofans. The CFM56-7 combines the core of the CFM56-5 with the CFM56-3's low pressure compressor and a 1.55m (61in) fan. The 737's new wing has greater chord, span and wing area, while the tail surfaces are also larger. The 2.4m (8ft) high winglets first developed for the Boeing Business Jet development are now offered as an option on the 737-700 (and -800).
The new engines and wings allow the 737 to cruise at Mach 0.78 to Mach 0.80, while the larger wing allows greater fuel tankage and transcontinental USA range. Other features include a 777 style EFIS flightdeck with six flat panel LCDs which can be programmed to present information as on the 777 or as on the 737-300/400/500 series, allowing a common pilot type rating for the two 737 families.
The improved Next Generation Boeing 737 family (originally covered by the 737X designation) was launched in November 1993. The 737-700 was the first member of the new family to be developed, and is based on the 737-300, while the 737-600 is based on the 737-500.
The 737-700 rolled out on December 7 1996, was granted certification in November 1997 and entered service (with Southwest) the following month. The 737-600 was launched was launched on March 16 1996, first flew on January 22 1998 and entered service (with SAS) in September that year.
The Boeing Business Jet or BBJ (described separately) is based on the fuselage of the 737-700 with the larger 737-800's wing.
The BBJ's airframe also forms the basis for theconvertible passenger/freighter variant of the 700, the 737-700QC, which has been ordered by the US Navy as the C-40A Clipper (to replace the DC-9 based C-9B). The C-40 first flew on April 17 2000. The naval aircraft can be converted to carry 121 passengers, or 3 pallets of cargo plus 70 passengers, or 8 pallets of cargo only. These aircraft are currently (2002) based at Naval Air Station Fort Worth, Texas (VR-59) and Naval Air Station Jacksonville, Florida (VR-58).
The US Air Force has bought two ex-Fordair BBJs, which are designated C-40B.

Boeing 737-600

The 737-600 is the direct replacement of the 737-500 and competes with the Airbus A318. The Boeing 737-600 did not include winglets as an option. WestJet was to be the Boeing launch customer for the 737-600 winglets, but announced in their Q2 2006 results that they were not going to move ahead with those plans. The 737-600 was launched by Scandinavian Airlines (SAS) in 1995 with the first aircraft delivered on September 18, 1998. A total of 69 -600s have been delivered.
Since 2012, Boeing has removed the 737-600 from their list of aircraft prices, presumably indicating the variant is now out of production.

Seatmap

Powerplants
737-600 - Two 86.7kN (19,500lb) CFM56-7B18 turbofans, or 101kN (22,700lb) CFM56-7B22s on high gross weight version.
737-700 - Two 91.6kN (20,600lb) CFM56-7B20s or 101kN (22,700lb) CFM56-7B24s on HGW version.

Performance
Typical cruising speed Mach 0.785. Max certificated altitude 41,000ft.
737-600 - Range with 110 pax 2480km (1340nm) or 5648km (3050nm) for HGW version.
737-700 - Range with 126 pax 2852km (1540nm) or 6037km (3260nm) for HGW version.

Weights
737-600 - Operating empty 37,104kg (81,800lb), max takeoff 56,245kg (124,000lb), HGW max takeoff 65,090kg (143,500lb).
737-700 - Operating empty 38,147kg (84,100lb), max takeoff 60,330kg (133,000lb), HGW MTOW 70,080kg (154,500lb).

Dimensions
737-600 - Wing span 34.31m (112ft 7in), length 31.24m (102ft 6in), height 12.57m (41ft 3in). Wing area 125.0m2 (1344sq ft).
737-700 - Same except length 33.63m (110ft 4in), height 12.55m 41ft 2in).

Capacity
Flightcrew of two.
737-600 - 110 passengers in two classes or 132 in a single class.
737-700 - 126 in two classes or 149 in a single class.

Production
737-600 - 81 ordered and 47 delivered by October 2002.
737-700 - 883 ordered and 465 delivered by October 2002.

Type
Short to medium range airliners

Schematics


History
The 737-600 and -700 are the smaller members of Boeing's successful Next Generation 737-600/700/800/900 family.
Among the many changes, the Next Generation 737s feature more efficient CFM56-7B turbofans. The CFM56-7 combines the core of the CFM56-5 with the CFM56-3's low pressure compressor and a 1.55m (61in) fan. The 737's new wing has greater chord, span and wing area, while the tail surfaces are also larger. The 2.4m (8ft) high winglets first developed for the Boeing Business Jet development are now offered as an option on the 737-700 (and -800).
The new engines and wings allow the 737 to cruise at Mach 0.78 to Mach 0.80, while the larger wing allows greater fuel tankage and transcontinental USA range. Other features include a 777 style EFIS flightdeck with six flat panel LCDs which can be programmed to present information as on the 777 or as on the 737-300/400/500 series, allowing a common pilot type rating for the two 737 families.
The improved Next Generation Boeing 737 family (originally covered by the 737X designation) was launched in November 1993. The 737-700 was the first member of the new family to be developed, and is based on the 737-300, while the 737-600 is based on the 737-500.
The 737-700 rolled out on December 7 1996, was granted certification in November 1997 and entered service (with Southwest) the following month. The 737-600 was launched was launched on March 16 1996, first flew on January 22 1998 and entered service (with SAS) in September that year.
The Boeing Business Jet or BBJ (described separately) is based on the fuselage of the 737-700 with the larger 737-800's wing.
The BBJ's airframe also forms the basis for theconvertible passenger/freighter variant of the 700, the 737-700QC, which has been ordered by the US Navy as the C-40A Clipper (to replace the DC-9 based C-9B). The C-40 first flew on April 17 2000. The naval aircraft can be converted to carry 121 passengers, or 3 pallets of cargo plus 70 passengers, or 8 pallets of cargo only. These aircraft are currently (2002) based at Naval Air Station Fort Worth, Texas (VR-59) and Naval Air Station Jacksonville, Florida (VR-58).
The US Air Force has bought two ex-Fordair BBJs, which are designated C-40B.
Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Alat Berat | Mobil | Sepeda
Copyright © 2011. Pusat Pesawat Terbang - All Rights Reserved
Support by Info Kapal and by Dapur Kita
Proudly powered by Blogger